Kesenian ebeg atau kuda kepang masih menjadi bagian dari identitas budaya Desa Jeruklegi Wetan. Di tengah perubahan zaman, kesenian tradisional ini tetap bertahan berkat komitmen para pelaku seni yang terus menjaga keberlangsungannya. Salah satu tokoh yang hingga kini aktif melestarikan ebeg adalah Bapak Sukino, yang saat ini menjabat sebagai ketua kelompok ebeg di Desa Jeruklegi Wetan.

Menurut penuturan Bapak Sukino, kesenian ebeg di Jeruklegi Wetan pertama kali berdiri pada 3 Juli 1972. Pada masa awal, kelompok ini dipimpin oleh Bapak Sandikarto sebagai ketua dan Slamet Suarto sebagai ketua kedua. Setelah berjalan hingga tahun 2004, kegiatan sempat terhenti karena kesibukan para anggotanya. Kesenian ini kemudian didirikan kembali oleh Bapak Sukino pada periode 2009 hingga 2018. Kepemimpinan selanjutnya dipegang oleh istrinya, Ibu Sukini, hingga tahun 2024. Setelah beliau wafat, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh Bapak Sukino hingga sekarang.

Kelompok ebeg yang ada saat ini bernama Turonggo Joyo Bangkit. Nama tersebut memiliki makna tersendiri, yaitu “Turonggo” yang dimaknai sebagai jalan, “Joyo” yang merujuk pada kejayaan atau berdirinya di Gunungjaya, serta “Bangkit” sebagai simbol kebangkitan kembali kesenian ini setelah sempat terhenti. Nama tersebut menjadi penanda semangat untuk terus menjaga tradisi yang telah diwariskan sejak puluhan tahun lalu.

Gambar 2. Foto kelompok kesenian ebeg Turonggo Joyo Bangkit

Saat ini, jumlah anggota yang terdata mencapai sekitar 30 orang, bahkan lebih. Dalam setiap pementasan, susunan pemain terdiri dari dua pengendang, bonang pertama dan bonang penerus, dua pemain saron, dua pemain dengung, satu pemain gong, satu pemain ketuk, dua hingga sinden, sepuluh penari, lima barong, serta satu pawang. Pertunjukan ebeg biasanya digelar saat menerima undangan masyarakat, seperti dalam acara pernikahan atau hajatan lainnya.

Namun demikian, kesenian ebeg tidak lepas dari tantangan. Menurut Bapak Sukino, minat generasi muda untuk belajar dan mendalami ebeg cenderung menurun. Proses latihan yang memerlukan waktu cukup lama serta adanya sejumlah pantangan yang harus dijalani selama latihan dan sebelum pementasan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi minat tersebut. Meskipun demikian, antusiasme penonton terhadap pertunjukan ebeg masih cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kesenian ebeg tetap memiliki tempat di hati masyarakat, meskipun regenerasi pelaku seni menjadi tantangan tersendiri.

Melalui kepemimpinan Bapak Sukino dan dukungan para anggota, kesenian ebeg di Desa Jeruklegi Wetan terus dijaga agar tetap lestari. Keberadaan Turonggo Joyo Bangkit tidak hanya menjadi simbol warisan budaya, tetapi juga cerminan komitmen masyarakat dalam mempertahankan identitas dan tradisi lokal di tengah arus perkembangan zaman.

Ditulis oleh Mahasiswa KKN UNS Kelompok 25 Tahun 2026

Bagikan Berita